Choirun Najib

BACALAH…

persiapan penetasan

leave a comment »

Untuk memperoleh persentase
hasil daya tetas yang memuaskan
ada beberapa langkah yang bisa
ditempuh, antara lain :
Menyeleksi telur tetas
Di sini kami tidak akan
membahas cara pemilihan telur
tetas karena pembahasan
tersebut sudah pernah kami tulis
sebelumnya di situs ini dan bisa
di buka pada kolom artikel. Inti
pembahasan bab ini adalah
mencari dan memilih telur yang
baik untuk ditetaskan yang
meliputi penyeleksian terhadap
bentuk telur, kebersihan kulit
telur, besar kecilnya telur,
keberadaan kantung udara, sex
ratio jantan dan betina, dan lama
penyimpanan telur.
Pengelolaan telur sebelum
dimasukkan mesin penetas
telur
Cara menyimpanan telur yang
baik adalah telur diletakkan
dengan ujung yang tumpul
berada di bagian atas. Suhu ideal
penyimpanan antara 5-15°C. Di
bawah batas tersebut embrio
bisa mati dan di atas kisaran
suhu tersebut embrio bisa
berkembang dan menyebabkan
penetasan yang lebih cepat. Cara
pengelolaan telur sebelum
dimasukkan mesin penatas
lainnya adalah dengan
membersihkan kulit telur dari
kotoran dan juga
menyucihamakan telur dengan
desinfektan.
Lokasi penempatan mesin
penetas
Mesin tetas hendaknya
ditempatkan pada ruangan yang
terlindung dari sinar matahari
atau terpaan angin. Yang ideal
adalah di tempat yang tertutup
atau kalau bisa tersembunyi,
gelap akan tetapi masih
mempunyai sirkulasi udara yang
baik. Kondisi ini seperti halnya
keadaan seekor induk betina
sedang mengeram dan
mungkinkah seekor induk betina
mengeram di tempat yang
terang? Untuk itu jangan sekali-
kali menempatkan mesin penetas
telur di depan atau belakang
rumah, di depan pintu keluar
masuk orang, dekat kamar
mandi, dan di dekat dapur.
Sumber panas
Sumber panas mesin penetas
telur bermacam-macam, ada
yang memakai lampu templok
(minyak tanah), briket batubara,
listrik (bolam, nikelin, elemen
magic jar), dan lain sebagainya.
Kita perlu mempunyai cadangan
sumber panas tersebut minimal
satu unit untuk berjaga-jaga
apabila sumber panas utama ada
masalah. Mesin tetas semi
modern atau modern biasanya
sudah menggunakan double
pemanas seperti kombinasi
listrik dengan minyak tanah atau
lainnya. Karena kebanyakan pada
saat sekarang sumber panas
yang digunakan adalah listrik
maka bisa menyediakan
cadangan minyak tanah, UPS,
Genset atau diesel untuk mesin
penetas telur kapasitas besar.
Persiapan mesin penetas telur
Satu hari sebelum telur
dimasukkan ke dalam mesin
penetas telur, sebaiknya ruangan
mesin telah disucihamakan
dengan desinfektan. Banyak
sudah jenis desinfektan yang
ditawarkan oleh produsen obat
dan kami tidak akan
menyebutkannya di sini. Kotoran-
kotoran yang melekat pada alas
lantai mesin, rak pengeraman,
dan dinding mesin dari sisa
proses penetasan sebelumnya
perlu dibersihkan juga. Setelah
proses penyucihamaan selesai
mesin ditutup kemudian mesin
bisa dinyalakan dan dibiarkan
sampai tercipta suhu yang stabil
yaitu antara 38-40°C.
Mengatur temperatur dan
kelembaban
Suhu pada mesin disetting
berkisar antara 38-40°C dengan
cara mengatur thermoregulator
atau thermostatnya. Sedangkan
kelembaban disetting pada
kisaran antara 50-60%.
Tempatkan thermometer dan
hygrometer pada tempat yang
mudah terlihat. Kami
menyarankan untuk memakai
thermometer yang terbuat dari
air raksa dan kalau
memungkinkan mempunyai
double thermometer untuk
pengecekan suhu karena bisa
jadi thermometer yang kita miliki
kurang keakuratannya.
Mengatur Sirkulasi Udara
Pada setiap mesin tetas biasanya
selalu diberi ventilasi udara agar
dapat terjadi pertukaran udara di
dalam mesin dengan udara luar.
Ventilasi udara dibuka mulai hari
ke-4 sedikit demi sedikit sampai
pada hari ke-7 lubang ventilasi
sudah terbuka penuh. Untuk
mesin penetas semi modern
biasanya sudah disertai dengan
fan (kipas) untuk membantu
pemerataan panas dalam mesin
dan membuang udara jika
diperlukan.
Meneropong telur (candling)
Banyak anggapan bahwa setiap
telur yang kita masukkan ke
dalam mesin penetas telur akan
menetas. Sebagian mereka tidak
mengetahui bahwa hanya telur
yang fertil saja (dibuahi) yang
bisa menetas. Peneropongan
terlur berfungsi untuk
mengetahui jumlah telur yang
infertil (tidak dibuahi), telur yang
fertil, embrio yang tumbuh dan
embrio yang mati. Pada
perlakuan penetasan telur ayam
kampung, peneropongan telur
dilakukan minimal tiga (3) kali
yaitu pada hari ke-3, 14, dan 18.
Telur yang infertil atau mati
embrio perlu dikeluarkan dari
mesin penetas telur. Telur yang
infertil masih bisa dikonsumsi
sedangkan telur yang mati
embrio bisa untuk campuran
pakan ternak.
Memutar telur tetas
Kegiatan ini memang sangat
menjemukan dan membutuhkan
kesabaran. Pemutaran telur
dilakukan mulai hari ke-4 sampai
hari ke-18 untuk telur ayam
kampung. Dalam satu hari
minimal 3 kali telur dibalik. Kalau
ingin hasil yang lebih baik telur
bisa dibalik setiap 3 atau 4 jam
sekali. Berdasarkan pengalaman
sebagian penetas di Purwokerto,
pembalikan telur setiap 3 jam
sekali memberikan daya tetas
sampai 90%.
Pendinginan telur
Kadang kita melihat seekor induk
ayam akan meninggalkan sarang
bertelurnya untuk mencari
makan atau sekedar bergulung-
gulung di tanah atau pasir.
Tingkah laku tersebut bertujuan
untuk mendinginkan telur.
Pendinginan telur pada mesin
penetas telur dilakukan saat kita
melakukan peneropongan telur.
Atau bisa juga untuk sesekali
waktu kita buka pintu mesin
penetas. Lama pendinginan telur
bisa antara 10-15 menit.
Menjelang menetas
Saat ini disebut dengan periode
kritis ke-2 dan biasanya banyak
penetas yang gagal dalam
menghadapinya. Pada tiga hari
terakhir sebaiknya telur tidak
perlu dibalik/diputar lagi.
Kelembaban perlu dinaikkan
sedikit untuk membantu proses
retaknya cangkang (pipping)
dengan cara penyemprotan telur
dengan sprayer atau lainnya.
Suhu perlu dipertahankan agar
tetap stabil dan menghindari
agar tidak terjadi kematian pada
sumber pemanas (PLN atau
lainnya).
Masa Transisi
Ketika anak ayam sudah menetas
biarkan beberapa jam sampai
bulu-bulunya mulai mengering
dan segera pindah ke tempat lain
yang telah dipersiapkan seperti
kardus, box yang diberi alas
jerami atau box khusus dengan
pemanas sekalian. Jangan
biarkan anak ayam terlalu lama
dalam mesin penetas karena bisa
menghalangi telur lainnya untuk
proses menatas. Kebanyakan dari
kita membiarkan anak ayam
menetas semua dan tidak
mengeluarkan anak ayam yang
menetas lebih awal. Sehingga
anak ayam yang menetas lebih
awal akan mengalami dehidrasi
dan akhirnya mati lemas.

Iklan

Written by choir17

18 Juli 2011 pada 9:25 pm

Ditulis dalam hewan, tips & trik

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: